Hearing DPRD Banyuwangi Ungkap Keluhan Sopir, Penyeberangan Ketapang–Lembar Kembali Dibuka
- account_circle BIN
- calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Permintaan agar penyeberangan Ketapang–Lembar kembali dibuka mengemuka dalam hearing DPRD Banyuwangi yang digelar pada Selasa (28/01/2026). Hearing tersebut merupakan tindak lanjut dari aspirasi para sopir truk yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI).
Hearing dipimpin Ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, dengan menghadirkan sejumlah stakeholder terkait, antara lain ASDP, KSOP, Gapasdap, Syahbandar, Dinas Perhubungan, dan Satlantas Polresta Banyuwangi.
Ketua ASLI, Selamet Barokah, menyampaikan secara langsung keluhan para sopir logistik yang selama ini harus menghadapi antrean panjang dan waktu tunggu yang tidak menentu di pelabuhan penyeberangan. Selamet Barokah menegaskan bahwa pengajuan pembukaan kembali penyeberangan Ketapang–Lembar telah dilakukan berulang kali ke kementerian terkait.
“Kita hanya ingin pengajuan Penyeberangan Ketapang – Lembar kembali, kita juga sudah sering mengajukan ke kementerian. Namun hingga saat ini tidak ada realisasi,” ujar Selamet Barokah.
Selamet Barokah menjelaskan bahwa kondisi antrean panjang telah berdampak pada kerugian materiil para sopir. Waktu tunggu yang mencapai empat hingga lima hari menyebabkan biaya operasional membengkak dan distribusi logistik terhambat.
Dalam penjelasannya, Selamet Barokah menyebutkan bahwa kemacetan menuju pelabuhan penyeberangan sering kali memicu antrean panjang yang sulit dikendalikan. Situasi ini membuat para sopir harus mengorbankan waktu dan pendapatan.
Selain menyoroti antrean, ASLI juga menilai bahwa pelayanan penyeberangan perlu ditingkatkan. Perbaikan fasilitas kapal dan pelabuhan dianggap penting agar permasalahan serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
“Fasilitas dan penempatan pelabuhan Jangkar – Lembar tentu tidak pas, ditambah lagi banyaknya sopir yang berdomisili di Banyuwangi. Makanya, kita harapkan pelabuhan Ketapang – Lembar kembali dioperasikan dan waktu keberangkatan kapal harus sesuai untuk mengantisipasi adanya antrean panjang,” kata Selamet Barokah.
Selamet Barokah juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan pelayaran. Menurutnya, kelayakan kapal dan kesiapan alat keselamatan harus selalu menjadi prioritas untuk mencegah kecelakaan laut.
“Kita hanya berharap seluruh pihak terkait segera mengambil langkah konkret demi kelancaran arus logistik nasional, serta keselamatan dan kenyamanan para sopir logistik,” ungkap Selamet Barokah.
Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua DPRD Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, menjelaskan bahwa hearing difasilitasi untuk memberikan ruang dialog antara sopir logistik dan pemangku kebijakan. Salah satu alasan kuat yang disampaikan ASLI adalah pertimbangan efisiensi biaya operasional.
“Mereka hanya meminta adanya peningkatan pelayanan demi kenyamanan para sopir, sehingga kita memfasillitasi melalui rapat hearing agar ada penjelasan dari seluruh pihak terkait,” ujar I Made Cahyana Negara.
Dalam forum tersebut, seluruh pihak terkait telah memberikan tanggapan. Namun, pembukaan kembali penyeberangan Ketapang–Lembar belum dapat dilakukan karena keterbatasan dermaga yang saat ini difungsikan untuk lintasan Ketapang–Gilimanuk.
“Untuk kemungkinan dibukanya kembali tentu bisa saja, namun itu semua ranah ASDP. Yang jelas, kita sebagai lembaga Dewan hanya mendorong untuk bisa dilakukan komunikasi yang baik,” jelas I Made Cahyana Negara.
Sementara itu, Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, I Putu Gede Widiyana, mengungkapkan bahwa aktivitas penyeberangan Jangkar–Lembar mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengusaha kapal memilih menghentikan operasional.
“Satu per satu pengusaha kapal mundur, mungkin saat ini hanya dua kapal yang masih beroperasi di Jangkar – Lembar,” sebut I Putu Gede Widiyana.
I Putu Gede Widiyana menambahkan bahwa minat sopir terhadap lokasi penyeberangan sangat memengaruhi keberlangsungan operasional pelabuhan. Banyak sopir memilih pelabuhan yang lebih dekat dibandingkan harus menempuh jarak tambahan ke Jangkar.
Meski demikian, I Putu Gede Widiyana menyatakan dukungannya apabila penyeberangan Ketapang–Lembar kembali dibuka, selama tidak mengganggu layanan Ketapang–Gilimanuk dan tetap sesuai dengan standar operasional pelabuhan.**
Penulis BIN
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.




Saat ini belum ada komentar